Sepertinya tulisan ini akan menggiring kepada tangisan, Ibu. Ya berbulan-bulan tidak bertemu rasanya aku sudah hidup tidak di atas planet yang sama denganmu. Mungkin salahku juga, melarangmu kesini waktu itu. Hanya saja aku tidak ingin Ibu merasa kasihan melihat diriku yang gampang sakit ini mondar-mandir kesana-kemari. Parahnya lagi, aku takut Ibu kecewa, jauh-jauh kemari malah selalu aku tinggali. Kegiatanku sudah berubah, Bu. Dari semula yang kembali tidur sehabis shubuh, sekarang harus menyiapkan segala sesuatu untuk hari itu bahkan hari berikutnya. Bukankah dirimu yang memintaku tidak malas? Sebenarnya aku berurai air mata waktu itu, pasti kau sangat merindukanku, Bapak, Adik pun pasti begitu. Kita selalu kompak. Tidak pandai memendam rindu.
Aku tidak pernah lupa tentang cerita masa kecil yang aku dapati dari nenek. Katanya, aku dulu cengeng. Tidak dalam gendonganmu saja rumah jadi berisik. Maklum, aku dulu masih sangat takut terhadap dunia. Selain itu, aku khawatir dirimu dalam masalah, makanya aku harus selalu dalam gendongmu kemanapun. Beberapa tahun berikutnya, aku sudah agak besar dan mengenyam bangku pendidikan formal tingkat dasar. Kalau tidak salah setahun setelah diriku kau masukkan ke Taman Pendidikan Al-Qur'an. Aku sangat senang kau perbolehkan membawa sepeda sendiri. Aku suka balap sepeda liar tingkat desa waktu itu, bersama teman-teman polosku yang tertawanya tidak karena menutupi kesedihan, yang dalam perkataannya tidak ada dusta, yang sangat mengenalmu dan kau kenal satu-persatu tidak seperti disini. Tidak peduli nanti akan jatuh, kaki lecet, keseleo atau paling parah masuk rumah sakit, kan ada dirimu, Bu. Hal paling menyebalkan waktu itu adalah kena marahmu. Waktu itu aku belum mengerti bahwa "sayang" banyak wujudnya, kemarahan salah satunya.
Ketika umurku memasuki belasan tahun, kau putuskan bahwa aku harus bersekolah di kota. Di sebuah sekolah menengah pertama yang katamu terbaik. Katamu biar pemikiranku luas, aku iya iya saja. Keinginanku ya bersekolah di sekitar rumah kita, biar aku bisa balap liar. Kalau dulu pakai sepeda, berarti naik kelas jadi pakai motor. Kalau dulu tingkat desa, berarti naik kelas jadi tingkat kecamatan. Aku juga tidak perlu lagi berkenalan dengan lingkungan. Hari pertama masuk, aku keheranan, Bu. Teman-temanku kulitnya begitu terawat, tidak ada bekas sengatan matahari. Yang berwajah desa sepertiku tidak banyak. Dalam satu kelas paling cuma ada 1 atau 2 saja. Dugaanku bahwa anaknya sulit diajak bergaul, semakin kuat saja. Banyak yang diantar pakai mobil, bukan mobil tahun '90an, semua produksi mulai tahun '00an. Aku lihat dari platnya. Aku berpikir apakah orang seperti ini mau aku ajak balap sepeda liar? Main kelereng? Gobak sodor? Aku jadi semakin benci terhadap keputusanmu. Beberapa bulan berlalu, aku mulai memahami maksudmu. Aku mendapati banyak hal yang sama sekali belum kudapati, bahkan mungkin tidak akan aku dapati jika aku tidak disitu. Aku rasa kalimat itu tidak berlebihan. Disitu memang anaknya tidak suka balap sepeda liar, tapi pemikiran mereka sungguh liar-liar. Aku tarik kata-kata benciku, Bu. Aku ganti kata maaf dan terimakasih.
Kau mulai memberiku kebebasan, aku memanfaatkannya dengan maksimal. Akibatnya pulangku sering tengah malam, tapi kau selalu terjaga di balik pintu. Menyegerakan aku masuk, agar selamat dari dinginnya udara malam yang menusuk dan langsung menyambut telingaku dengan jarimu yang siap memelintir. Kau juga memberiku kebebasan untuk memilih sekolah lanjutan. "Kamu tahu mana yang terbaik dan pantas dipilih" katamu meyakinkanku. Ketika duduk di sekolah menengah atas waktu itu, aku ingat sekali kau sangat ingin tahu siapa wanita yang aku sukai. Jawabku tidak ada. Tentu saja berbohong. Aku sengaja tidak banyak menceritakan kepadamu Bu, karena aku tidak mudah menyukai wanita. Hingga suatu saat rasa itu ada sampai hari ini dan tidak berencana menghentikannya. Yang pasti tidak perlu alasan untuk menyukainya dan tidak perlu banyak aku ceritakan padamu.
Hari ini, aku di tanah yang begitu jauh dengan tanah yang kau pijak. Dalam batinmu, pasti penuh tanya aku sedang apa, dimana, dengan siapa. Aku kesini tidak untuk membingungkanmu mencari jawaban itu, Bu. Jangan khawatir Bu. Aku tidak neko-neko, sholatku tetap 5x, miras dan rokok selalu aku jauhi, teman-teman baik selalu aku gauli. Tidak jauh beda dengan ketika aku di rumah, kecuali jarak. Tenanglah, Bu. Sekarang sudah tidak seperti dulu. Aku bukan lagi anak kecil yang air liurnya berceceran di kasur ketika tidur. Aku bukan lagi anak kecil yang suka kencing tidak pada tempatnya. Aku bukan lagi anak kecil yang cengeng ketika tidak bersanding denganmu. Kau harus berbangga Bu, anak sulungmu banyak berubah berkatmu.
Memang sudah saatnya aku berada disini. Inilah waktu yang sangat kau takuti selama betahun-tahun. Tapi Bu, inilah jalan untuk menebus kemuliaan dan nyawa yang telah kau persembahkan untukku. Tidak sepantasnya jarak ini dikutuk bersama, aku tidak ingin doa-doa baik berubah menjadi syair kegelisahan. Ridhai-lah anak sulungmu ini, doakan-lah anak sulungmu ini, agar kelak bisa jadi manusia yang hasil karyanya penuh manfaat.
Ibu, jaga kesehatanmu. Jangan kebanyakan makan makanan bersantan, karena tidak baik untuk kesehatanmu. Kau harus mulai merubah itu. Memang tidak nikmat, tapi melihat dirimu sakit sungguh cobaan Tuhan amat berat. Jangan kebanyakan makan kacang-kacangan. Kau nanti bisa asam urat. Aku tidak ingin tanganmu selalu memegang punggungmu. Jangan makan gula banyak-banyak. Manisnya bisa sangat mematikan Bu. Jangan lupa cek kesehatan di dokter langgananmu. Jangan sampai telat atau tidak sama sekali. Kau harus tau apa yang badanmu butuhkan agar tetap sehat. Kau harus sehat Bu. Harus sehat. Kau harus selalu menyambutku di ruang tunggu terminal bis. Kau harus dampingi aku ketika memakai toga nanti. Kau harus lihat satu-satunya seremoni yang khusyu' ketika anak sulungmu mengucap janji suci atas wanita idamannya. Kau harus gendong cucu-cucumu yang lucu. Kau harus merasakan betapa gelinya telingamu dipanggil "nenek". Kau harus rasakan itu semua!
-----
Saat ini aku sangat kenyang terhadap kerinduan, kepadamu yang pasti. Bagaimanakah rasanya, Bu? Anak sulungmu yang dulu begitu dekat denganmu, pernah berada dalam perutmu, selalu ikut bersamamu, sekarang wajahnya saja sulit kau lihat?
Dari sini, dengan sungguh-sungguh aku mendoakanmu, semoga Allah memberimu kesabaran.
Sumpah, aku akan segera pulang!
Komentar
Posting Komentar