Tau kan, Wardah Exclusive Matte Lip
Cream No. 6 itu warna apa?
Biru, gundulmu!
Banyak pertanyaan di kepalaku soal
pemakaian lip cream ini, mulai dari yang sederhana sampai yang menurutku rumit.
Mulai dengan melibatkan kognisi hingga, terpaksa, emosi. “Astaghfirullah, sing
sabar, tole”. Sekadar mengingatkan, emosi tidak selamanya impulsif tidak
rasional. Justru rasionalitas memiliki andil penting dan berperan sebagai
stimulus atau rangsangan untuk selanjutnya dievaluasi serta diekskalasikan
menjadi emosi. Jangan disimpulkan bahwa aku membenarkan merespon apapun dengan emosi,
ya. Lanjut.
Aku kebingungan menafsirkan cara Yang
Mulia beserta para pembantunya membereskan permasalahan yang ada. “Sebenarnya, Yang
Mulia paham atau tidak, sih, tentang masalah prioritas?”, ucapku terdengar
menggurui dan naif. Lebih tepatnya, heran betapa konyolnya respon terhadap masalah prioritas yang membuat aku malah meracau demam tinggi karena terlalu lama diabaikan.
Aku sempat sangat kesulitan untuk
memaklumi mengenai leletnya pemberian “bantuan” terhadap kelas terbawah dalam
tatanan struktur lembaga ini yang mana jumlahnya memiliki kue terbanyak dalam
diagram lingkaran jika dibandingkan dengan elemen-elemen lainnya. Kira-kira,
setiap tahunnya ada orang sebanyak satu lapangan sepak bola yang memasuki lembaga ini
melalui berbagai seleksi. Pun, terkait yang mengeluarkan diri secara suci
melalui penelitian yang “better done than perfect”, sebanyak, kurang lebih
seribu setiap 3 bulan sekali.
Aku bukan seorang sanguinis, tapi masih
memiliki bahasa harapan yang cukup lugas. Siapa lagi yang aku harapkan selain
Yang Mulia, yang notabene memainkan peran sentral dalam papan catur lembaga ini.
Tidak ada. Ya, meskipun selugas-lugasnya harapanku, ujung-ujungnya tidak akan
pernah lunas.
Berada di dalam lingkaran ini, memaksaku
harus sekali lagi membaca buku milik Sapardi Djoko Damono. Memang, atas
perlakuan Yang Mulia dan pembantunya, membuatku harus belajar dari hujan bulan
Juni, sosok paling tabah di muka bumi. Meskipun, sepertinya aku malah harus
memberi tau hujan bulan Juni bahwa aku telah lebih tabah darinya. Fenomena
yang aku hadapi lebih maha dahsyat daripada merahasiakan rindunya dari sang kekasih.
Seharusnya, Yang Mulia paham, bahwa ketabahanku – dan kawan-kawan senasib – adalah cerminan
kualitas respon yang mereka berikan kepadaku. Bergerak linear: semakin tabah,
semakin bobrok.
Siapa yang tidak bingung, melihat geliat
mereka memoles identitas lembaga tanpa menemukan urgensi terkait dampak baik yang
selaras terhadap pengharapan berbagai elemen di dalamnya, khususon ya kelas
terbawah dan terbanyak tadi. “Serius, di masa pandemi kok malah sibuk memakai
lip cream? Mau jalan-jalan kemana, wong dilarang bertamu”. Perubahan seperti
ini perlu dicurigai alih-alih diapresiasi karena seakan-akan memunggungi
kenyataan. Lantas, sudah jamaknya kalau aku keheranan menanggapi urgensi
perubahan yang hingga mentok tidak ditemukan sekaligus menelan kekesalan sedalam-dalamnya atas tindakan tidak etis itu. Kenapa, sih, harus memakai Wardah Exclusive Matte Lip Cream
No. 6?
Dari aku, yang agak ketakutan, merasa sendirian, dan
pura-pura polos.
Salam hangat, serta mulia!
Salam hangat, serta mulia!

Komentar
Posting Komentar