Kenapa, Sih, Malah Pake Wardah Exclusive Matte Lip Cream No. 6?



Tentu saja, tulisan ini tidak membahas mengenai kandungan mineral dalam Wardah Exclusive Matte Lip Cream No. 6. Tentu saja, tulisan ini juga bukan untuk mengotori brand Wardah yang sangat aku hormati, apalagi ketika mengikuti historis pembangunan brand Wardah oleh Ibu Nurhayati Subakat. Bukan-bukan, bukan itu. Tentu saja tulisan ini akan membahas tentang penggunaan Wardah Exclusive Matte Lip Cream No. 6. Kali ini nggak lazim. Bukan untuk bibir seksimu, melainkan identitas lembaga oleh Yang Mulia di atas sana. Sungkem.

Tau kan, Wardah Exclusive Matte Lip Cream No. 6 itu warna apa?

Biru, gundulmu!

Banyak pertanyaan di kepalaku soal pemakaian lip cream ini, mulai dari yang sederhana sampai yang menurutku rumit. Mulai dengan melibatkan kognisi hingga, terpaksa, emosi. “Astaghfirullah, sing sabar, tole”. Sekadar mengingatkan, emosi tidak selamanya impulsif tidak rasional. Justru rasionalitas memiliki andil penting dan berperan sebagai stimulus atau rangsangan untuk selanjutnya dievaluasi serta diekskalasikan menjadi emosi. Jangan disimpulkan bahwa aku membenarkan merespon apapun dengan emosi, ya. Lanjut.

Aku kebingungan menafsirkan cara Yang Mulia beserta para pembantunya membereskan permasalahan yang ada. “Sebenarnya, Yang Mulia paham atau tidak, sih, tentang masalah prioritas?”, ucapku terdengar menggurui dan naif. Lebih tepatnya, heran betapa konyolnya respon terhadap masalah prioritas yang membuat aku malah meracau demam tinggi karena terlalu lama diabaikan.

Aku sempat sangat kesulitan untuk memaklumi mengenai leletnya pemberian “bantuan” terhadap kelas terbawah dalam tatanan struktur lembaga ini yang mana jumlahnya memiliki kue terbanyak dalam diagram lingkaran jika dibandingkan dengan elemen-elemen lainnya. Kira-kira, setiap tahunnya ada orang sebanyak satu lapangan sepak bola yang memasuki lembaga ini melalui berbagai seleksi. Pun, terkait yang mengeluarkan diri secara suci melalui penelitian yang “better done than perfect”, sebanyak, kurang lebih seribu setiap 3 bulan sekali.

Aku bukan seorang sanguinis, tapi masih memiliki bahasa harapan yang cukup lugas. Siapa lagi yang aku harapkan selain Yang Mulia, yang notabene memainkan peran sentral dalam papan catur lembaga ini. Tidak ada. Ya, meskipun selugas-lugasnya harapanku, ujung-ujungnya tidak akan pernah lunas.

Berada di dalam lingkaran ini, memaksaku harus sekali lagi membaca buku milik Sapardi Djoko Damono. Memang, atas perlakuan Yang Mulia dan pembantunya, membuatku harus belajar dari hujan bulan Juni, sosok paling tabah di muka bumi. Meskipun, sepertinya aku malah harus memberi tau hujan bulan Juni bahwa aku telah lebih tabah darinya. Fenomena yang aku hadapi lebih maha dahsyat daripada merahasiakan rindunya dari sang kekasih. Seharusnya, Yang Mulia paham, bahwa ketabahanku –  dan kawan-kawan senasib – adalah cerminan kualitas respon yang mereka berikan kepadaku. Bergerak linear: semakin tabah, semakin bobrok.

Siapa yang tidak bingung, melihat geliat mereka memoles identitas lembaga tanpa menemukan urgensi terkait dampak baik yang selaras terhadap pengharapan berbagai elemen di dalamnya, khususon ya kelas terbawah dan terbanyak tadi. “Serius, di masa pandemi kok malah sibuk memakai lip cream? Mau jalan-jalan kemana, wong dilarang bertamu”. Perubahan seperti ini perlu dicurigai alih-alih diapresiasi karena seakan-akan memunggungi kenyataan. Lantas, sudah jamaknya kalau aku keheranan menanggapi urgensi perubahan yang hingga mentok tidak ditemukan sekaligus menelan kekesalan sedalam-dalamnya atas tindakan tidak etis itu.  Kenapa, sih, harus memakai Wardah Exclusive Matte Lip Cream No. 6?

Dari aku, yang agak ketakutan, merasa sendirian, dan pura-pura polos.

Salam hangat, serta mulia!

Komentar